.

.

Laman

Wednesday, 21 September 2016

ASAL USUL DESA LUBUK BANDUNG

Logo kabupaten Ogan Ilir
PENESAK - Dahulu kala di zaman kesultanan palembang, ada orang sakti bernama bokong hitam, mempunyai hobby menyabung ayam, karena selalu menang menyabung ayam, maka dijuluki “ Sang Penyabung “ atau lebih dikenal “ Bujang Juaro “, mempunyai keahlian tidur dengan mata sebelah ( jika siang hari tidur dengan mata sebelah kiri, dan malam hari dengan mata sebelah kanan ), selain itu konon katanya ada juga usang ( Orang Bahari ) berambut panjang ( ± 5 Meter ) dan pengikut-pengikutnya, dan ada juga usang anak rimau.

Ketika kesultanan palembang dijajah belanda, bujang juaro dan teman-temannya melarikan diri kepedalaman dengan menggunakan perahu, sesampainya diujung batang hari ( Sungai ) mereka berhenti karena rambut usang rambut panjang tersangkut di pohon kelumpang yang banyak buahnya, kemudian mereka menetap disana dan menamakan tempat itu Kelumpang.

Dikisahkan pada suatu hari Bujang Juaro merampok seorang gadis bernama Wetri Sukaisih ( Gadis pelarian dari kerajaan banten ), karena memakai baju putih, maka dijuluki atau dipanggil usang dara putih, dalam perjalannya wetri sukaisih membawa harta berupa uang dan emas beratnya sama dengan seekor kijang, setelah ditangkap wetri sukaisih dibawah pulang oleh bujang juaro ke kelumpang untuk dijadikan istrinya, tetapi usang dara putih menolaknya, kemudian usang dara putih membuat siasat agar dapat membohongi bujang juaro.

Setelah bujang juaro meninggal dunia, usang dara putih menjadi pemimpin di kelumpang, penduduk diajari cara bertani dan hasilnya dijual kepasar, karena tersiar kabar suburnya tanah kelumpang, maka mulai banyak orang pindah ke kelumpang dan menetap disana.

Setelah sekian lama bermukim di kelumpang, usang dara putih, usang rambut panjang, usang anak rimau serta para pengikutnya menyelusuri batang hari ( sungai ) untuk mencari tempat tinggal baru, dalam perjalannya rambut usang rambut panjang tersangkut dipohon, dan di tempat itu mereka menemukan sungai berbendung dua ( Lubuk yang Berbendung “ saat ini lebih dikenal masyarakat dengan nama pengkalan P. Kemang dan pengkalan Bandung” ), akhirnya dengan kesepakatan bersama, mereka menetap disana dan menamakan tempat tersebut Lubuk Bandung ( Lubuk Berbendung ).

Disinilah tempat usang dara putih bermalam, semangkin lama semangkin banyak orang yang bermalam, dan pada akhirnya penduduk yang tinggal di kelumpang pindah ke lubuk bandung, lubuk bandung pun akhirnya berkembang menjadi dusun, dusun inilah yang sekarang berkembang menjadi desa lubuk bandung.

Usang dara putih, usang rambut panjang, usang anak rimau dan para leluhur lainnya dimakamkan di kelumpang ( lebih dikenal “ Kelko Kelumpang “ ), saat ini menjadi lokasi pemakaman leluhur yang setiap tahun pada bulan syafar selalu dilakukan pembersihan dan ziarah, sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada mereka.

Guna mempercepat kemajuan dan kemandirian wilayah maka pada tahun 2003, wacana pembentukan Kabupaten Ogan Ilir mulai digulirkan dengan melakukan penelitian pemekaran wilayah Kabupaten OKI yang dilaksanakan oleh Universitas Sriwijaya bekerjasama dengan Bappeda Ogan Komering Ilir.

Penelitian dilanjutkan oleh Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dengan lebih intensif bekerjasama dengan DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir dibawah pimpinan Ir. H. Mawardi Yahya yang juga mantan bupati Ogan Ilir, yang menyimpulkan bahwa pembentukan kabupaten baru Kabupaten Ogan Ilir sangat layak dan sudah waktunya untuk membentuk Pemerintahan sendiri menjadi Wilayah kabupaten yang otonom yang terdiri dari 6 wilayah kecamatan, yaitu : . Kecamatan Indralaya, Tanjung Raja, Tanjung Batu, Muara Kuang, Pemulutan, dan Kecamatan Rantau Alai.

Otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab merupakan amanah dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan mendapatkan otonomi daerah secara penuh dan terpisah dari kabupaten induk Kabupaten Ogan Komering Ilir melalui Undang-Undang Nomor 37 tahun 2003 yang ditetapkan pada tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Ilir diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta pada Tanggal 7 Januari 2004, dan mulai efektif dilaksanakan secara nyata sejak tanggal 14 Januari 2004 dengan dilantiknya Penjabat Bupati Ogan Ilir sebagai pelaksana tugas umum penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, serta memfasilitasi pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.

Pembentukan Kabupaten Ogan Ilir. Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Ilir Nomor 21 Tahun 2006 tentang Pemekaran Kelurahan dan Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan, serta Peraturan Bupati Ogan Ilir Nomor 44 Tahun 2006 tentang Pembentukan dan Pemekaran Desa di Kabupaten Ogan Ilir, maka jumlah desa/kelurahan semula hanya 164 desa/kelurahan yang terdiri dari 159 desa dan 5 kelurahan berubah menjadi 241 desa/kelurahan yang terdiri dari 227 desa dan 14 kelurahan.  

Kemudian kecamatan tanjung batu dimekarkan menjadi beberapa kecamatan, salasatunya kecamatan Payaraman, Desa Lubuk Bandung Masuk Dalam Marga Meranjat, Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir,

Desa Lubuk Bandung terdiri dari 2 Dusun, berjarak ± 5 Km arah selatan dari Kantor Camat Payaraman, Dengan Batas-batas sebagai berikut:
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Payaraman Barat
  • Sebelah Utara Berbatasan dengan Desa Tanjung Bulan Kec. Rambang Kuang 
  • Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Rengas I Kec. Payaraman 
  • Sebelah Barat Berbatasan dengan Desa Tebedak I Kec, Payaraman 
  • Desa Lubuk Bandung terletak di jalur lintas antara Kecamatan payaraman dan kecamatan rambang kuang. 

Sebagian besar lahan di desa lubuk bandung dimanfaatkan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian / perkebunan dan pemukiman.

Masyarakat desa lubuk bandung sangat kental dengan tradisi-tradisi peninggalan leluhur, upacara-upacara adapt yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia ( Lahir – dewasa / berumah tangga – mati ) seperti upacara kelahiran, Khitanan, perkawinan, dan upacara-upacara yang berhubungan dengan kematian seperti : Nigo, nujuh, nyelawe, empat puluh, nyeratus selalu dilakukan oleh masyarakat, selain itu, tradisi sedekah ruwa, bersih desa, dan semacamnya juga masih dilakukan setiap tahun.

Kegotongroyongan masyarakat masih kuat, kebiasaan menjenguk orang sakit ( Tetangga atau Sanak famili ) masih dilakukan oleh masyarakat, biasanya ketika membesuk orang sakit, selain makanan yang dibawa, ada juga yang mengumpulkan uang bersama-sama warga untuk kemudian disumbangkan kepada si sakit untuk meringankan beban biaya, kebiasaan saling membantu memperbaiki rumah atau membantu tetangga yang mengadakan perhelatan juga masih dilakukan, semua itu menggambarkan bahwa hubungan ketetanggan di desa lubuk bandung masih sangat erat/kuat.

No comments:

Post a Comment